Bahasa Banyumasan dan Lawakan

Sugeng enjang ~ (enjang loh ya, bukan enjong, #eh…)
Mangga sarapan kentang ~ (kentang bukan kentong, lalu mangga itu… mmm…)
Heheheheee….

Btw, masih, main-main dialek kayak-kayak gitu itu lucu?
Masih, bahasa Banyumasan dipakai buat senjata andalan dalam lawakan?

Masih, realita diluaran sana orang-orang berasa lucu sekedar denger bahasa Banyumasan?

Padahal eranya dah era digital/komputerisasi/lepi/pengkritisan, etapi kok masih stag disitu-situ ya, pada kemana aja?
Jamannya lagi jaman sik-asik menelisik lebih dari sekedar permukaan loooh, lagi ngajakin berproses kearah cerdas dan kreatif.
Noh, ambil contoh aja stand up comedy, or meme-meme, berkembang asik salah satunya karna mereka seolah mengembalikan unsur kritik dan kekritisan pada lawakan, nyentil-nyentil gimanaaa gitu.

Flashback ciiinnnttt…
Bahasa Banyumasan atau bahasa Panginyongan merupakan bahasa Jawa, dialek Banyumasan.
Terdapat banyak perbedaan antara dialek Banyumasan dengan dialek Jogja dan Solo.
Perbedaan yang khas yaitu akhiran “A” tetap diucapkan “A”, bukan “O”

Pun kata-kata yang berakhiran huruf mati “K” akan dibaca jelas dan penuh, misalnya kata enak, pada dialek Banyumasan dibaca enak, sedangkan pada dialek Jogja dan Solo dibaca ena’ (dengan pengucapan “K” yang seperti lesap pada akhiran kata).
Ngopo dalam dialek Jogja dan Solo, diucap ngapa dalam dialek Banyumasan.

ngopo = ngapa ~~~ di-ngok-ken/diolok-olok jadi ~~~> ngapak ~~~> ngapak-ngapak.

Gitu deh, bahasa Banyumasan akhirnya dikenal sebagai bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak.
So, sesungguhnya penyebutan bahasa Banyumasan menjadi bahasa Ngapak dilakukan awalnya oleh orang-orang dari luar Banyumas, sebagai olok-olok.
Iya, mereka memperolok, mentertawakan, banal bingith ga siii… sekedar bahasa Banyumasan dijadikannya sekedar bahan lawakan.
Kitakah masih mo meneruskan warisan kesalahkaprahan inih badiiihhh? Huh.

Flashback lagi ya ciiinnnttt…
Yuks ngobrolin tentang lawakan/komedi/humor yang merupakan bagian dari seni pertunjukan/hiburan.
Masyarakat Jawa kuno menyebut pertunjukan lawak sebagai mabanol dan mamirus.
Mabanol mengacu pada unsur lawak dengan gerakan-gerakan, sedangkan mamirus lebih menekankan unsur perkataan lucu.

Kemudian tersebutlah pasemon, plesetan, dan guyonan yang sarat kritik dalam merespons ketidakadilan sistem sosial dan ekonomi yang hampir terus-menerus diwariskan dalam perjalanan sejarah tatanan kekuasaan tradisional Jawa.
Lawakan ini konon merupakan seni mengkritik, mengingatkan, mendidik, menerjemahkan, atau mengejawantahkan perilaku pemimpin dan masyarakat.
Merupakan manifestasi kenyataan pahit atas ketidakadilan, karnanya dalam banyak kasus justru sangat berbobot.
Tradisi lawakan ini kemudian diwariskan oleh seni tradisi seperti ketoprak, ludruk, pun dagelan.
Sebagaimana seni, mereka dilekati sekian deret peran seni; salah satunya adalah mengcover hal-hal implisit, sebagai media informasi dan edukasi.

Jaman orde baru, komedi konon memang dianggap mampu lebih dinamis, luwes dan bebas untuk mengcover peran itu, selain tentu saja sebagai hiburan.
Taulah klo jaman orde baru tu serem buat hal-hal yang berbau frontal dalam mengkritisi pemerintah, pun sikon sosial kemasyarakatan yang lagi happening.
Karnanya kelugasan dicover sedemikian rupa termasuk dalam lawakan, salah satunya dengan membumbui slapstick, gerak isyarat dan bahasa tubuh kocak atau “kasar”, seperti keplak-keplakan atau pukul-pukulan.
Slapstick kian sering disertakan dengan penggunaan bahasa daerah, khususnya bahasa Banyumasan yang terkenal ceplas-ceplos/cablaka.

Selain mengcover kelugasan, slapstick juga merupakan terobosan untuk memancing kelucuan, khususnya bagi penonton dari luar Banyumas yang ga ngerti dan paham bahasa Banyumasan.
Tak jarang pula gerakan tersebut dilebay-lebaykan, untuk penegasan, bahkan dalam perjalanannya sering ga nyambung.
Ibarat kata ga ngerti bahasanya gapapa, dengan slapstick diharapkan penonton bisa tetap tertawa.

Ntahlah, kenapa sekedar gitu-gitu saat itu merupakan sesuatu yang lucu.
Mungkin karna saat itu masyarakat membutuhkan tontonan ringan, gurih dan renyah yang ga harus njlimet menggunakan pemikiran.
Mungkin karna sudah lelah.
Or, mungkin karna terlanjur terjebak dengan bakat memperolok dan diolok, sebagaimana fenomena bahasa Banyumasan menjadi bahasa Ngapak.

Lawakan dalam bahasa Banyumasan diistilahkan dagelan.
Grup dagelan hitz ’70-an sampai ’80-an adalah Dagelan Peang-Penjol dan Suliyah.
Hampir seluruh percakapan dalam dagelan tersebut menggunakan bahasa Banyumasan.
Sedangkan grup lawak hitz pada jamannya, yang tak jarang memasukkan unsur bahasa Banyumasan dalam lawakannya adalah Srimulat.

Satu lagi yang ga lepas dari lawakan dengan slapstick/gerak lebay dan penggunaan bahasa Banyumasan, adalah stigma kaum rendahan.
Si pelawak pemeran orang Banyumas ga pernah jauh dari peran “wong cilik”, a.k.a “orang kecil”, a.k.a “kaum sudra”, bahkan tak jarang berperan sebagai “batur/rewang/pembantu”, lengkap dengan karakter bodoh/tololnya.

Jujur apa adanya, sedikit tak santun, namun terbalut dalam sikap enjoy, nrimo, dan tetap jenaka.

Sering kali begitu, seolah si pelawak dalam peran tersebut, dibawah karakter ceplas-ceplos/cablakanya, merupakan tiket untuk bisa lebih leluasa dan bebas melontarkan pikir pun rasa.
Peran yang disengajakan untuk leluasa dan bebas melambungkan isu keresahan seputar kehidupan “wong cilik” yang bodoh/tolol.

Lambungan isu, konsep dari suatu alur untuk kemudian dijadikan bahan obrolan sesama pelawak yang berperan sebagai sesama “wong cilik”, kadang dibiarkan menggantung begitu saja, mungkin untuk bahan renungan/kontemplasi sesudahnya.
Or isu yang menjadi umpan lambung yang kemudian dijawab dengan pemaparan dan penjelasan oleh sosok yang lebih bijak (mungkin majikan/tokoh masyarakat/pejabat/peran-peran lain dengan strata yang lebih tinggi dari sekedar “rewang/pembantu”, tentu saja peran itu bukan peran orang Banyumas).
Luwesnya peran seni, alih-alih sebagai media kritik sosial corak bottom-up approach (lahir dari bawah dan memberi feedback ke atas), dalam prosesnya juga sebagai media corong pemerintah, dengan bahasa yang ringan, gurih dan renyah.

Ya gitu deh, bahasa Banyumasan yang saat itu banyak dipakai dalam lawakan.
Terlepas dari ada/ga adanya lawakan lain, saat itu lawakan yang memasukkan unsur bahasa Banyumasan cukup laku dan banyak penonton yang ketawa.
Simple yak?
Sesimple itu pula orang banyak menanggapi suatu lawakan sekedar pada permukaan, sekedar pada slapstick/gerak lebay/pemakaian bahasa Banyumasan, terutama saat perkembangan lawakan/komedi/humor terkesan monoton.

Padahal klo ditarik pada tataran yang lebih dalam, bahasa Banyumasan dengan karakternya cukup mampu mengakomodir hal-hal implisit; sebagai media informasi dan edukasi; didalamnya terkandung wacana kritis, pendidikan moral, dan nilai-nilai lokal wisdom.
Pro rakjat, sarat keberpihakan terhadap “wong cilik”.
Potensial sebagai media untuk “bersembunyi” dalam memunculkan isu-isu/kritik sosial melalui sindiran, humor-humor satir, katarsis, termasuk mengajak penonton mentertawakan diri sendiri. 

Di lokal Banyumas dan sekitarnya terdapat beberapa lawakan yang mengunakan bahasa Banyumasan, dua diantaranya yaitu Kartun Banyumasan “Cekakak”, dan “Curanmor” (Curahan Perasaan dan Humor).
“Cekakak” merupakan format baru penyajian dagelan Banyumasan.
Acara ini disiarkan di TV lokal.
Sedangkan ”Curanmor” dipopulerkan oleh Samidi melalui siaran radionya di Cilacap.
Ga sekedar mengocok perut penikmatnya, tapi juga menyelipkan kritik-kritik sosial, protes atas pelayanan publik dll.

Dua lawakan ini bisa dibilang telah ikut menguri-uri budaya Banyumas, khususnya bahasa Banyumasan, untuk tetap hidup dalam masyarakat.
Sebagaimana terjadi di berbagai daerah, penggunaan bahasa daerah sendiri kian ditinggalkan dari hari kehari, terutama oleh generasi mudanya, pun gitu deh bahasa Banyumasan.

Ya memang si, pemahaman dan daya nalar orang beragam (begitu deh persepsi-persepsi, bisa berbeda-beda meski terhadap suguhan dari perspektif yang sama).
Tapi lalu apa kabar donk bahasa sebagai penyampai pesan, sebagai media umum a.k.a general dalam berkomunikasi?
Ataukah kekiniannya bahasa kian mengalami degradasi fungsi (bahkan terhadap fungsi paling dasar), hingga sekedar dicermati sebagai rerungonan saja?

Nah kan, klo sampai saat ini orang masih pakai bahasa Banyumasan sekedar buat bahan olok-olok, sekedar lawakan di permukaan saja, alias ga berisi or ga perduli sisi kedalaman, itu fiuhhh sekali.
Seperti yang pernah dilakukan Kartika or orang-orang sepertinya.
Sekedar kayak gitu sedikit banyak karakter komediannya kayak presentasikan bahwa orang-orang yang berbahasa Banyumasan itu bodoh/tolol.
Itukah yang dipresentasikan dia ke khalayak tentang orang-orang Banyumas?

Saya orang Banyumas, saya memang “wong cilik”, mungkin saya juga termasuk orang bodoh/tolol sebagaimana yang pernah Kartika or orang-orang sepertinya, presentasikan.
Tapi saya secara pribadi liat karakter komedian Kartika or orang-orang sepertinya yang sekedar kayak gitu-gitu, kok ya sama sekali ga lucu, malah jengah, lebay beud.
Ya-ya-ya, balik ke pribadi masing-masing, tapi hari gini lawakan dengan konsep sekedar kayak gitu-gitu po masih laku?
Udah ga keren, malah kemunduran kali namanya.
Udah ga asik, ga elegant, sama sekali ga sexy.
Kekiniannya sexy sedikit banyak tentang “muatan” dikepala, hati, lalu teraplikasi dalam sikap.

Bukan tengah keberatan klo bahasa Banyumasan dipakai sebagai lawakan, tapi ayolaaah… klo pemakaiannya untuk lawakan dengan sedikit lebih berbobot, ga sekedar buat bahan olok-olok, pasti donk akan jauh lebih asik dan menohok. 

——————————————————————

etnohistori.org/indonesia-tertawa-semua-tentang-srimulat-ulasan-buku-oleh-fandy-hutari.html
historia.id/modern/sindiran-sosial-dalam-canda
kaya-kiye-bae.blogspot.co.id/2012/11/lawakan-banyumasan-sing-perlu-di.html
bupati.banyumaskab.go.id/news/16706/balai-bahasa-provinsi-jateng-terbitkan-kamus-bahasa-banyumasan#.VwVhaktldUA
kompasiana.com/kandar_tjakrawerdaja/samidi-curanmor-dan-lawakannya-yang-menyentil_5509bb928133117f1cb1e599
eyang-nardi.blogspot.co.id/2014/03/ngintip-dapur-kartun-banyumasan-cekakak.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s